Kuliner Solo
JadiPergi – Tak terasa hari mulai sore menjelang malam. Matahari pun sudah tergelincir ke arah barat. Aku masih terjebak diantara tawar menawar kemeja batik yang ditaksir temanku sedangkan pikiranku sudah berlarian di kuliner Solo. Mbok-mbok yang mulai sepuh tetap bersikukuh hem batik bermotifkan parang kusumo itu seharga Rp 45.000. Namun seakan tak mau kalah, karibku yang ingin membungkus batik itu untuk kekasihnya di Jakarta menawar Rp 30.000.
“Tiga lima aja deh buk. Saya bungkus deh sekarang juga”, saut temanku yang tetap menawar.
Mbok penjual pun akhirnya melipat hem tersebut dan membungkusnya dengan plastic kemasan. Mungkin karena sudah mulai sore dan Adzan sudah berkumandang akhirnya hem itu dilepas di harga Rp 35.000. Makin malam tampaknya perut mulai tidak bisa diajak kompromi. Wajar saja seharian penuh kami berkeliling Solo mulai  dari Keraton di Solo, Pasar Triwindu, hingga Pasar Klewer.

klewer - Jelajah Solo, Cabuk Rambak Kuliner Solo yang Langka - paket wisata

Teringat satu makanan khas solo sewaktu aku kuliah 5 tahun lalu. Walaupun aku kuliah di Yogyakarta, namun Solo yang surge kuliner menjadi tempat favorit untuk menggoyang lidah. Terlebih ada kereta Prameks yang sangat murah dan cepat. Hampir tiap bulan kusediakan hari special ke Solo.
“Ayo makan, malah bengong mulu. Mau makan dimana?”
“Cabuk Rambak!!”, spontan nama makanan ini yang keluar dari mulutku.
“Apaan tuh? Kok baru dengar” timpal temanku.
Maklum saja, karena makan ini kurang tenar dibandingkan dnegan Nasi Liwet Solo atau Timlo Sastro yang letaknya dibelakang Pasar Gede. Apalagi dibandingkan dengan ketenaran Selat Solo Mbak Lies yang interiornya penuh dengan keramik itu.
Cabuk rambak terdiri dari dua kata yaitu “cabuk” adalah sebutan untuk  saus wijen yang dicampur kemiri dan kelapa parut yang terlebih dulu disangrai dan “Rambak” sebutan untuk kerupuk kulit. Makanan yang mulai langka ini dibuat dari ketupat nasi yang diiris tipis-tipis, kemudian disiram dengan cabuk. Lalu ditambah beberapa potong karak (sejenis kerupuk yang terbuat dari nasi kering dan bleng). Karak sebagai pengganti kerupuk kulit yang harganya makin lama makin mahal.
Rasa gurih dari sangria wijen dan kelapa dipadukan dengan tekstur kupat yang halus dan kemudian dipadukan karak sebagai penyeimbang rasa dan tekstur menyatu di dalam mulut dan siap membawa siapa saja yang memakannya mengakasa. Semua kenikmatan itu ditaruh diwadah daun pisang.

Cabuk-rambak-1024x576 - Jelajah Solo, Cabuk Rambak Kuliner Solo yang Langka - paket wisata

Memang porsinya tidak terlalu besar dan kadang hanya sebagai makanan selingan. Tapi jangan khawatir karena biasanya penjual cabuk rambak juga menjual nasi liwet. Seperti di tempat Bu Parmi yang terletak di jalan Yos Sudarso. Tempat yang selalu ramai bahkan sebelum tempatnya siap ini menjadi andalan sejak dulu.
Akhirnya kami selesai di Solo, sambil menunggu taksi online yang akan membawa kami ke terminal Tirtonadi dan kembali ke Yogyakarta. Satu konsekuensi yang harus kami terima tertinggal kereta terakhir karena terlalu terbius dengan cabuk rambak Buk Parmi. Namun sangat-sangat worth it dan akan menjadi perkenalan untuk kunjungan selanjutnya.