sunrise sikunir
JadiPergi – Mari kita mulai perjalanan ke negeri di atas awan Dieng dari Jogjakarta. Perjalanan kali ini mungkin akan cukup melelahkan karena menggunakan sepeda motor. Perjalanan kami mulai pukul 23.00 malam. Perbekalan sudah kami beli dan siap untuk berkemah di Dieng.
Pukul 04.00 kami sudah sampai di gardu pandang dataran tinggi Dieng. menyaksikan sunrise dari sini bisa dibilang cantik. semangkuk mie ongklok makanan khas Wonosobo menjadi teman kami. Setelah terbit kami lanjutkan perjalanan menuju Candi Arjuna.
Saat itu memang Candi Arjuna baru saja buka sehingga masih sangat sepi. Jejeran candi dengan bentuk identik dengan candi Hindu menjadi sajian pembuka kami di dataran Dieng. berkeliling dan berfoto-foto di sekitar Candi Arjuna cukup menghilangkan dingin yang sedari malam kami rasakan.
Sayangnya, perjalanan kami di Candi Arjuna harus berakhir karena mendung sudah mulai menampakan dirinya. Akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Sembungan yang mendapat predikat sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa.
Sepanjang perjalanan, terlihat pipa-pipa besi besar mengiringi kami. Pipa itu adalah penyambung sumber energi GeoThermal yang konon katanya jika dioptimalkan mampu mengaliri energi listrik se-jawa dan Bali.
Kami pun mendirikan tenda di pinggir telaga Cebongan. Telaga ini berada di Desa Sembungan. Tepat setelah kami mendirikan tenda, hujan pun mulai turun dengan deras. Maklum saja kami pergi kesana pada bulan Maret yang notabene musim penghujan. Hujan sangat awet hingga berhenti pada sore hari.
Matahari yang tenggelam memantulkan sinar jingga kemerahan di Danau Cebongan. kami pun bersiap dengan api unggun karena malam pasti akan sangat dingin. Semangkuk mi instant kami santap untuk mengisi perut kami yang sudah keroncongan. Saat malam, hamparan bintang terlihat dengan sangat jelas. beruntung malam itu sangat cerah.
Malam pun berlalu hingga kami terbangun dengan riuhnya lingkungan sekitar kami. Sedikit trauma menghantui karena pengalaman mistis kami di Pasar Bubrah merapi. Namun tampaknya sinar lampu sorot mobil membuang jauh0jauh praduga kami.
Ramai sudah dipenuhi orang yang ingin menyaksikan sunrise Sikunir. Kami pun bersiap untuk melihat terbitnya mentari. Jalan menuju puncak Sikunir tidaklah susah. Sudah disediakan tangga untuk mencapai puncaknya. Untuk kamu yang ingin kesini jangan sampai lupa senter atau headlamp untuk penerangan.
Pukul 05.00 pun kami sudah sampai dipuncak. Tidak memerlukan waktu yang memang untuk sampai di puncak. Saat mulai sunrise, samar-samar Gunung Sumbing mulai menampakan kegagahannya. Matahari nan bulat pun mulai muncil dari balik lautan awan. Tak mau ketinggalan, kami mulai mengambil kamera untuk mengabadikan momen itu. Sungguh pemandangan yang sangat mempesona.a